Minimart Bersaing??
Juli 18, 2008
Eh, aku kepikiran nih!
Setiap kali ada toko serba ada waralaba semacam Alfamart atau Indomart, apabila salah satu sudah berdiri di satu lokasi, pasti yang satunya lagi ngikut berdiri di lokasi yang tidak jauh dari saingannya. Kira-kira kenapa ya??
Toko-toko serba ada semacam Alfamart atau Indomart merupakan salah satu bentuk usaha yang disebut waralaba atau franchise, kalo istilah sononya. Franchise berasal dari bahasa Prancis, yang artinya kejujuran atau kebebasan, intinya merupakan hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun layanan. Sedangkan menurut pemerintah Indonesia, franchise atau waralaba merupakan perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki oleh pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penggunaan barang atau jasa tersebut (http://id.wikipedia.org/wiki/Waralaba/).
Intinya, dalam franchising, kau membeli lisensi atau izin untuk menggunakan dan atau menjual produk atau jasa dari suatau paten tertentu. Sudah banyak contoh franchise di Indonesia, beberapa di antaranya adalah McDonalds, KFC, CFC, dll.
Naaah, salah satu jenis dari waralaba ini adalah berupa toko serba ada mini semacam Alfamart dan Indomart. Seperti yang telah kusebutkan di atas, mereka bersaing ketat dalam memperebutkan pelanggan yang umumnya ibu-ibu rumah tangga, yang malas berbelanja jauh-jauh ke supermarket, tapi pengen belanja di toko sekaliber supermarket itu yang dekat dengan rumah mereka dan tidak banyak makan waktu serta ongkos (aku juga senang kok main ke mini market macam itu, sambil kadang-kadang iseng membandingkan harga…).
Antara dua mini market yang kusebut barusan, sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan antara tampilan keduanya. Keduanya sama-sama memiliki ukuran toko yang kurang lebih sama luasnya, sama-sama berpenerangan lebih (alias terang banget, laksana pasar malam di tengah malam yang gelap —maksud???)
, barang-barang yang dijual di dalamnya juga gak beda-beda jauh, paling berkisar antara barang-barang kebutuhan rumah tangga. Harga juga tidak terlalu beda jauh, hanya di salah satu mini mart memang harganya lebih mahal.
Yang bikin aku geli adalah semangat dan daya juang mereka untuk bersaing satu sama lain. Apabila yang satu membuka lokasi baru di satu tempat, maka dapat dipastikan yang satu lagi akan segera mengikuti dengan membuka cabang di lokasi dekatnya. Benar-benar deh!
Tren terbaru sekarang ini dikembangkan oleh Alfamart yaitu dengan membuka cabang toko yang buka 24 jam penuh. Indomart belum menyaingi, tetapi siapa tahu, lihat saja nanti. Dengan bukanya toko selama 24 jam, dan harga yang tidak terlalu meningkat seperti halnya K-Circle Mart yang memang sejak awal berupa toko 24 jam dengan harga selangit, Alfamart mendapat tempat tersendiri di hati beberapa pelanggannya yang gemar ngelayap malam-malam sambil belanja, salah satunya aku hehehe…
Yah, persaingan sih sah-sah saja ya, selama tidak melanggar batas dan privasi lawannya. Aku cuma sekedar geli dan kadang bertanya-tanya mengapa mereka seperti saling berkejaran dan menemani di mana pun mereka berlokasi. Bagai kucing dan ikannya, eh bukan, kucing dan kutunya, hahahahaha…. XD
Salam, Dea.
N.B. Pertama kali aku lihat ada Alfamart 24 jam adalah di daerah dekat kampusku di IPB Dramaga. Benar-benar suatu anugrah bagi mahasiswa tukang ngenet dan ngelayap malam-malam kayak aku! ![]()
Sekedar Cerita…
Juli 16, 2008
Menanggapi tulisan Alin, aku cuma mau bagi-bagi pengalaman nih, mengenai pelecehan seksual.
Bener kata Alin, semua wanita (mungkin) pernah mengalami pelecehan seksual, baik verbal ataupun fisik. Aku pernah mengalami, kalau yang verbal pernah beberapa kali tapi aku lupa tepatnya kapan, jadi nggak bisa kuceritain, sedangkan yang fisik pernah kualami di bis Pusaka arah Tangerang.
Ceritanya tuh, aku pulang ke rumah dari kampus di Bogor naik Pusaka. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sejak awal naik di Parung, aku sudah merasa dipepet orang. Pertamanya aku berdiri; dia belum mepet banget tuh. Terus aku dapat tempat duduk di bagian tengah bis. Dia tambah mepet padaku. Memang sih bisnya ramai, tapi mepetnya nggak perlu sampai segitunya kan??
Terus, pas sambil duduk gitu aku ketiduran. Aku masih merasa dipepet sama orang itu. Aku setengah tidur nengok ke arahnya, mau lihat mukanya kayak apa. Karena gelap jadi nggak terlalu jelas, tapi yang jelas dia gondrong. Kukira ibu-ibu, jadinya aku bangun dan berdiri lagi sambil menyilakan dia duduk. Aku pindah dan berdiri di dekat pintu belakang bis. Eeeh, dia bukannya duduk, malah ikut berdiri di posisi di dekatku, terus dia mepet aku lagi. Aku sebel, dan agak kaget juga ketika sadar kalau dia tuh cowok. Dan setelah kupikir-pikir lagi, aku juga baru nyadar, dia mepet aku pake, sori nih, ‘bagian depan’nya!!
Aku tegur kan, “Mas, kan bisnya nggak rame lagi. Sanaan dikit kek berdirinya!”
Dia jawabnya nggak terlalu jelas; aku nangkapnya dia ngomong, “Iya Mbak, saya kedorong-dorong bisnya.” Masak yang kedorong-dorong cuman anunya, ke arahku lagi??!!
Aku marah besar. Jadi aku bentak saja dia, “TURUN KAMU! SEKARANG JUGA!! AWAS KAMU KALAU GAK TURUN!!” Dianya takut, terus turun secepat kilat dari bis.
Ampun deeh, padahal aku dagdigdug derr tadi. Untung aku berhasil mengumpulkan keberanian untuk memarahinya. Akhirnya ketika aku dapat tempat duduk di bagian belakang bis, seorang bapak yang duduk di sebelahku cerita bahwa dia sebelumnya juga mepet seorang perempuan berjilbab seperti aku. Aku baru nyadar, yang berjilbab di bis itu cuman aku dan mbak itu, yang sudah turun duluan. Bapak itu juga menambahkan bahwa mbak itu turun karena risih dipepet pake anu cowok tadi. Kasihan. Wajar sih, dia pasti jijik dan takut dipepet orang kayak gitu. Kalau aku, sori menyori deh, uangku cuma cukup sekali jalan sampe rumah, jadi demi bertahan hidup dengan ongkos seiprit, apalagi itu sudah malam, aku memberanikan diri melawan. Aku berpendapat, orang yang tadi memepet kami itu orang gila, minimal nggak waras, soalnya dia cuma mengincar orang berjilbab saja. Mungkin dia pernah punya trauma gitu, sama orang berjilbab, aku juga tidak tahu. Wallahu alam…
Pernah juga aku lagi jalan habis pulang dari lab SBRC, baru-baru ini kejadiannya. Aku barusan beli makan dan menenteng makananku itu di tangan kiri. Sebuah angkot melintas berlawanan arah dengan arah jalanku (aku jalan di sisi yang salah sebenarnya…), dan dari jendela penumpang depannya yang terbuka, sebuah tangan terulur seperti hendak, sori nih, menyentuh dadaku. Semakin dekat, semakin dekat, tidak ada tanda-tanda tangan itu bakal masuk lagi ke dalam mobil. Dalam kepanikan, yang kepikiran di kepalaku hanyalah menghindar! Jadinya aku memiringkan badan sedemikian rupa sehingga tangan itu hanya sempat meraih bagian belakang tasku sekilas. Hehehe rasain luh!! Untung aja otakku cpepet juga mikir cara menghindar yang baik. Dalam hati, aku kesal, dan berpikir, jika saja aku tidak sedang bawa makanan di tangan kiri, aku bakal menggenggam tangan itu erat-erat dan kalau bisa memelintirnya kuat-kuat.
Jadii, bagi siapa pun yang pernah (atau takut) mengalami hal semacam ini, berjuanglah untuk melawan. Sebisa mungkin melawan. Dan terutama sekali, jangan biarkan dirimu menjadi obyek pelecehan! Hal itu bisa diupayakan dengan membungkus rapat tubuhmu dengan pakaian yang senonoh dan sesuai dengan syarat agama, Islam tentunya. Jangan berdandan berlebihan dan menggoda. Jangan juga bersikap berlebihan dan genit, bersuara keras melebihi kapasitas desibel yang diizinkan, dan bersuara mendayu-dayu. Semua itu untuk kebaikan kita sendiri.
Salam, Dea.
lebih lengkap, baca tulisan Alin di http://alinananty.wordpress.com/2008/07/13/perempuan/
Komersialisasi Sekolahan?? Wajarkah?
Juli 16, 2008
Beberapa hari ini aku membuka banyak email yang masuk ke milis SMANSA Bogor. Maklum aku juga alumnus sana. Banyak sekali keluhan mengenai komersialisasi almamater kami tercinta itu.
Awalnya dari mulai dibentuknya kelas berbasis internasional atau SBI, dengan bahasa ajar bahasa Inggris dan ruang kelas ber-AC. Uang masuk dan uang pangkal di SMANSA jadi melangit, yaah… pokoknya segala-galanya pake duit lah. Dan semua jenis komersialisasi massal itu sampai masuk ke koran lokal.
Sungguh menyedihkan memang. Teman-temanku banyak yang menyesalkan kondisi ini, dan banyak berkomentar, mulai dari keluhan bersambung orang tua mereka sampai usulan untuk melengserkan kepsek. Aku sih jujur tidak banyak berkomentar mengenai hal itu.
Kenaikan biaya pendidikan sama seperti kenaikan biaya lain di negeri kita ini : signifikan dan sejalan dengan kenaikan harga BBM. Aku kurang tahu apa korelasinya, tetapi begitulah kenyataannya. Jadi, aku menganggap bahwa komersialisasi sekolah, selama masih dalam kisaran tertentu adalah suatu kewajaran biasa.
Tetapi jika kenaikan biaya (baca : penaikan biaya) sekolah ini dijadikan sebagai tolok ukur keunggulan suatu sekolah, aku benar-benar tidak setuju. Sekarang ini, banyak sekolah yang mulai ‘menjual diri’nya dan mengklaim bahwa dirinya adalah sekolah unggul, dengan biaya masuk selangit. Pada akhirnya, sekolah itu bukan lagi sekolah unggulan, karena melancarkan segalanya melalui uang. Namanya jadi sekolah matre dong??
Upgrading suatu sekolah di negeri kita ini terkadang (baca : seringnya) tidak disertai dengan kesiapan dan persiapan baik dari staf pengajarnya maupun dari para calon muridnya. Sehingga mereka keteteran mengikuti kurikulum sekolah yang melejit bagaikan roket menuju dunia internasional (pengajaran pake bahasa Inggris, kelas internasional). Bayangkan, masak temanku yang punya sepupu seorang pengajar di PG mengatakan bahwa, sebagian besar murid almamaterku yang katanya kelas internasional itu malah tidak mengerti pelajaran mereka karena semua pelajaran diajarkan dalam bahasa Inggris yang tidak mereka mengerti??? Terus bagaimana dong???
Intinya, mahalnya biaya pendidikan di negeri kita ini menyebabkan para orang tua tercekik. Ibuku saja pusing tujuh keliling memikirkan biaya masuk SMA adikku. Untungnya dia masuk sekolah yang tidak terlalu mahal uang masuknya (meski aku merasa bahwa sekolahnya itu kurang bermutu… sori aja ya…). Jadiiii, aku merasa komersialisasi sekolah seperti yang dilakukan oleh SMANSA Bogor ini sudah memasuki taraf keterlaluan. Maunya unggul, malah jadinya ditinggalkan oleh peminatnya karena kemahalan. Kasian deh lu…
Salam, Dea.
N.B. Untuk para kawanku sesama alumni SMANSA Bogor, tetap semangat dan vokal dalam membangun almamater sekolah kita. Aku bukanlah seorang idealis, melainkan seorang realis, tetapi aku sangat senang mendengar kevokalan dan kepedulian kalian semua terhadap almamater kita tercinta. Semangat!!